Oke, saya akan melanjutkan apa yang saya dapatkan setelah sekolah ahad kemarin. Jadi setelah shalat isya, Yusuf Mansyur akhirnya naik ke mimbar dan menjadi berbicara. Dia beberapa kali memuji masjid An-Nur karena masjidnya lumayan ramai, walaupun bangunanya tidak terlalu mahal. Kemudian beliau berbicara tentang kemudahan yang akan didapat manusia ketika dia mendekatkan diri kepada Allah. Karena semakin atas kita mengenal posisi seseorang, maka akan semakin mudah kita berurusan dengan masalah kita. Misal kita mau apply beasiswa, kita akan mudah kalo kita mengenal beberapa dosen sehingga dosen itu bisa memberi surat rekomendasi, atau mungkin mengenal founder LPDP, Sri Mulyani misal. Kita bisa tinggal langsung kontak beliau dan ada kemungkinan diterima kalo emang kualifikasinya terpenuhi. Nha ini, kalo kenal sama yang punya Sri Mulyani, sama yang punya rektor di seluruh universitas luar dan dalam negri, bakalan lebih mudah kan? Nha gimana caranya ketemu sama “orang” ini? ya ketemunya di masjid. Ya simple as that. Kemudian beliau juga menceritakan beberapa cerita tentang orang lain yang menggambarkan kalo deket sama Allah, kadang ada aja jalan yang nggak pernah disangka-sangka. Secara singkat itu yang saya dapet malem abis shalat isya. Nha abis selesai saya langsung balik ke asrama, beres-beres kamar. Karena saya ngrasa ini orang bakalan keliling kamar. Nha setelah selesai beres-beres, rombongan anak-anak yang lain baru dateng, yah, you know, setelah turun mimbar, banyak banget jamaah yang ngajak salaman Yusuf Mansyur. Nha setelah itu makan malam dan baru beliau keliling kamar dan akhirnya sharing bareng.

Saya akan coba bagi apa yang saya dapat dari sharing bareng beliau ya, jadi satu hal yang saya tangkap adalah tentang bagaimana membuat ilmu yang dipelajari bisa dihubungkan dengan al-quran. Jadi pemaknaan al-quran yang ditekanin. Bukan tentang sebarapa banyak hafalan. Jadi ternyata beliau itu, dengan jadwal yang sesibuk itu masih nyempetin barang 1 jam untuk menulis al-quran dan apa yang dia dapat. Beliau kemarin mencontohkan ayat ali imron, akhir juz 3. Beliau menggali lewat tata bahasa, kenapa ini ada kata ini, tapi ayat setelahnya ada, terus apa makna sebenarnya kata ini. beliau juga mencontohkan tentang kenapa ada ayat yang akhirnya yasykurun, yasykurun abis itu baru ya’lamuun. Gitu-gitu sih. Kayak misal kalo dari saya ini ya. alfatihah ayat 1. Alhamdulillah hi rabbil alamiin. Al Alamiin, itu kan alam semesta, alam semesta itu gede banget, dan itu otak kita nggak bakal sampe buat paham tentang itu, dimensinya udah beda. Nha dengan kebesaran Allah itu, yang gede banget, Maha gede malah, beliau juga bilang di Al-Mulk, qul innamal ilmu indallah, wa inna ma ana andhriun mubiin. Semua ilmu itu milik Allah dan apa-apa yang pada diri manusia itu sedikit, kecil nggak ada apa-apanya. Jadi, selama masih hidup ni, teruslah cari ilmu yang banyak, tapi jangan sombong, karena Allah selalu lebih punya banyak ilmu dibandingkan manusia di seluruh muka bumi ini. Dan always stay foolish and stay hungry, karena ilmu Allah nggak ada batasnya, masak iya, dikasih kesempatan yang bisa ambil banyak atau sedikit malah ngambil yang sedikit.

Ya secara simplenya gitu lah. Dan bagi saya ini terlihat menantang, dan you know lah, Yusuf Mansyur sesibuk apa. Masak dia yang sibuknya segitu aja bisa, saya yang masih belum terlalu banyak yang diurusin gini nggak bisa? ya pasti bisa lah.

Dan Sekolah Ahad ini berakhir dengan foto bersama. Yusuf Masnyur gitu. walaupun udah pasti ada yang minta foto-foto sendiri gitu, udah sama-sama paham lah ya. Saya? Buat apaan? Wkwk

Advertisements

Cerita ini dimulai ketika jam 10.00 WIB. Walaupun segala agenda “sekolah” ini dimulai 30 menit setelah itu. Oh iya, agenda saya ini sebenarnya adalah semacam agenda silaturahim dan sharing, tapi disini saya menyebutnya sekolah. Jadi sekitar pukul 10.30 WIB, saya lupa gurunya namanya siapa, tapi beliau merupakan Direktur Rumah Zakat. Nha beliau bercerita tentang amalan istimewa. Lebih spesifik lagi beliau bercerita tentang tiga pemuda yang terjebak di sebuah gua, kemudian mereka berdoa kepada Allah dengan menyertakan amalan istimewa yang mereka lakukan. Saya beranggapan bahwa netizen budiman (sok-sok an, kayak ada yang baca aja) sudah mengetahui cerita ini, karena udah termasuk cerita yang lumayan masyhur nggak sih? kalaupun belum, mungkin bisa gugling bentar. Tapi saya coba mendalami lagi apa sih kriteria ibadah istimewa itu. Apa yang saya tulis ini sangat subjektif dan sangat dipengaruhi oleh latar belakang sosial dan sejarah saya, dan bisa jadi berbeda dengan orang lain. Nggak bisa jadi sih, tapi pasti bakalan beda sama orang lain.

Amalan istimewa itu ada beberapa aspek, yang pertama itu keberlanjutan. Misal dhuha 4 rakaat setiap hari, tahajud setiap malam, baca alquran setiap hari 1 juz. Bisa juga ibadah gairu mahdhah, misal Rasulullah yang memberi makan kepada nenek yahudi yang setiap hari juga memaki Rasul (Ini bisa ditemukan di cerita Abu Bakar yang tanya tentang kebiasaan Rasul sebelum beliau wafat). Anyway, kadang tu saya mikir, Rasul ini baik banget gitu, ngasih makan nenek yahudi buta yang maki-maki dia, Nggak kebayang sih. Itu satu ya. Nha yang kedua, Amalan istimewa itu cuma antara hamba sama Allah aja yang tahu. Terus yang ketiga, amalan istimewa itu adalah amalan yang meninggalkan larangan yang sangat bisa dilakukan, tapi karena takut sama Allah, urung untuk dilakukan. Mungkin itu tiga dari apa yang saya ingat sampe detik ini.

Sekolah dilanjutkan  dengan pelajaran dari seorang pemilik de halal mart. Beliau menceritakan tentang perjalanan bisnisnya hingga bisa memiliki swalayan dan bisnis-bisnis lainya. Beliau mengawali dengan menjadi EO. Beliau awalnya menangani konser Ari Lasso 11 kota dengan modal 5 juta dan akhirnya dapet utang sekian ratus juta. Beliau akhirnya berdoa sama Allah, melakukan 7 amalan gitu, shalat berjamaah, puasa baca quran gitu-gitu, oh iya beliau juga itikaf abis shalat subuh. Nha yang terakhir ini beliau bilang kalo itikaf abis subuh sampe beliau shalat syuruq itu kan pahalanya kayak umrah, nha beliua kayak itung-itungan ama Allah gitu lho, kalo umrah misal 25 juta berarti beliau udah dapet berapa juta dari sekian kali syuruq (Honestly, saya agak nggak sepakat sama yang ini sih). Tapi intinya beliau mendekat sama Allah, dan semuanya jadi mudah.

Kemudian sekolah dilanjutkan dengan pelajaran dari seorang guru yang kerja di BRI syariah. Beliau kayak ngurusin dana haji gitu di BRI syariah. Nha awalnya beliau ini adalah sarjana teknologi, daftar kemana-mana nggak ketrima sampe akhirnya beliau diterima di 2 tempat, BNI sama LIPI. Nha karena pertimbangan gaji, beliau nerima yang BNI. Gaji BNI 300 ribu, LIPI 80 ribu, terus milih BNI. Logis sih. Terus beliau jadi progamer di BNI, ingat beliau adalah sarjana geologi, abis itu beliau ditawari ke BRI syariah, dan beliau mau. Beliau cerita macem-macem tentang perjalanan BRI syariah yang awalnya kecil sampe bisa jadi gede kayak sekarang, sambil sepik-sepik audiens untuk membuat rekening syariah, tapi saya menangkap insight yang lain. Ternya masa depan itu sangat tidak tentu. Geologi jadi bankir. Itu tidak nyambung, aneh tapi nyata, dan mungkin banyak. Yang terpenting adalah jalani dan hadapi saja yang ada pada diri kita sekarang. Karena rizqi Allah selalu tersedia untuk hamba-Nya yang mau berusaha. (cieileh).

Kemudian setelah isya, ada Yusuf Mansyur berbicara di masjid tempat saya shalat. Tapi ini udah malem, jadi saya lajut besok ya. Tapi bisa jadi tulisan ini berhenti disini. Nggak janji aja sih. Takutnya situ ngarep, terlalu ngarep.

Danke.

Sleman, 14 Oktober 2018.

22:48 WIB

 

Selamat sore. Tak terasa Bulan September sudah akan berakhir, Tinggal kurang lebih 5-6 hari lagi Oktober akan datang. Dan saya merasa sangat beruntung dan bersyukur tentu saja, bisa menulis disini. Bisa berbagi disini.

Secara tidak sengaja saya kembali membuka dashboard Twitter saya yang sudah lama saya “bius”. Dan saya membaca salah satu postingan tentang rekomendasi film yang membuat para netizen menangis. Akhirnya saya buka deh itu thread, nha akhirnya saya menemukan rekomendasi film Silenced. Film Korea. Saya agak ragu awalnya, tapi karena di postingan netizen ini dituliskan kalo film ini berasal dari kisah nyata, akhirnya saya langsung streaming deh. Maafkan jika saya menikmati hasil bajakan :”(.

Oke kita mulai. Saya akan coba menceritakan sedikit sinopsisnya. Oke, buat yang pengen nonton, segera tutup halaman ini dan nonton, karena mungkin catatan ini akan mengandung beberapa unsur spoiler. Jadi film ini mengisahkan tentang seorang guru di SD tuna rungu yang curiga dengan beberapa kelakuan muridnya. Singkat cerita, dia mengetahui kalau ternyata ada 3 anak yang mengalami kasus pelecehan seksual di sekolah ini. Sebenarnya ada 4, tapi ada satu anak yang sudah mati bunuh diri. Nha bersama seorang aktivis HAM, guru ini mencoba mencari keadilan. Tapi sayangnya praktik suap di kasus ini sangat subur. Pihak polisi, hakim bahkan pengacara dari pihak korban di akhir cerita juga di suap. Pemerintah kotanya juga terlihat lepas tangan dengan kasus ini dan terlihat saling melempar tanggung jawab. Akhirnya melalui media, kasus ini bisa naik ke meja pengadilan. Anak-anak yang menjadi korban diminta untuk cerita dengan bahasa isyarat, dan direkam kemudian videonya disebarkan melalui media massa. Nha ketika di pengadilan korban di mintai keterangan, beberapa saksi juga iya, saya tidak ingin menceritakan tentang ini, tapi yang jelas disini ada beberapa mekanisme suap yang gila-gilaan. Jadi ada 3 korban, tapi yang memberi keterangan hanya 2 korban, ini karena si nenek korban yang ketiga sudah disuap dan menandatangi perjanjian damai. Oh iya, saya juga perlu memberi tahu kalau si tersangka ini, kepala sekolah, guru dan kepala administrasi ini merupakan semacam orang yang taat beribadah dan banyak membantu agenda gereja. Intinya dia taat agama, dan you know lah, kadang mata manusia itu agak siwer kalo liat kasus beginian. Jadi karena dia rajin ke gereja dan banyak mendukung agenda gereja, banyak juga orang yang mendukung para tersangka.

Nha singkat cerita, mereka tetap dihukum dengan kurungan penjara kurang dari 1 tahun dengan masa percobaan kurang dari 3 tahun. Lupa saya detilnya dan saya sebenernya agak nggak paham dengan keputusanya sih, masa percobaan ki piye?. Padahal sebelum sidang terakhir, si guru dan aktivis HAM ini menemukan rekaman CCTV si kepala sekolah (atau kepala admin ya? soalnya mereka kembar identik sih), lagi mencabuli si korban, kemudian rekaman itu diberikan kepada si pengacaranya, tapi ternyata secara implisit filmnya memberi tahu kalau si pengacara juga sudah disuap. Sebenarnya si guru ini juga sudah disuap tapi dia menolak. Di akhir cerita, si korban 3 balas dendam sama guru yang sudah melakukan pelecehan seksual kepadanya dan mereka mati bersama tertabrak kereta api. Dan di akhir cerita diinformasikan bahawa sampai 2011, para tersangka masih bebas dan aktivis ini masih berusaha agar kasus ini diselesaikan secara adil.

Saya coba mengambil sedikit pelajaran. Mungkin sudah banyak kasus kayak gini ya, ustadz yang melakukan pelecehan seksual, orang kaya yang terlihat rajin ibadah tapi juga agak “gila” hasratnya. Dan saya pikir kasus seperti ini harus dilihat secara jeli, tentu akan banyak orang mendukungnya karena mungkin dia taat, tapi dia bersalah dan keadilan harus ditegakan. Saya tidak sedih melihat film ini, tapi lebih ke kesal dan jengkel dengan alur ceritanya. Apalagi ini kisah nyata. Praktik suap yang gila disini juga terlihat menjijikan. Saya salut kepada guru yang tetap jalan terus menyelesaikan kasus ini, walaupun kondisi anaknya sedang sakit, walaupun di awal sebelum jadi guru dia juga disuruh bayar. Uang pengembangan atau apalah bilangnya. Saya melihat kesabaran dan keteguhan gurunya yang sangat-sangat besar. Ketika selesai persidangan, si guru ini ditampar dan diludahi oleh seorang ibu yang berelasi dengan kepala sekolah. Dia istrinya atau siapa ya lupa. Tapi guru ini tidak marah. Tidak membalas juga. Sabarnya keren banget sih. Saya belajar bahwa sabar itu mahal harganya. Mahal banget. Dan ada satu kutipan yang dikatakan si guru kepada anak-anaknya yang saya suka, “Sesuatu terbaik dan terindah adalah bukan sesuatu yang bisa dipegang atau dilihat, tapi sesuatu yang bisa dirasakan dengan hati.” Itu adalah kutipa Helen Keler, coba tonton film Black, atau film miracle apa ya, lupa judulnya.

Marilah lebih jernih dalam melihat, terkadang kulit tidak selalu menjelaskan isi, begitupun sebaliknya. Terus perbaiki diri. Terus jernihkan pikiran, dan selalu gunakan hati.

The_Crucible-poster

Gambar 1. Poster Film Silenced (2011). sumber: wikipedia.org

 

 

September menjadi bulan paling kelabu untuk saya. entahlah, di bulan ini saya sepertinya sama sekali tidak membaca buku. Apapun. Dorongan saya untuk membaca buku saya sangat rendah. Walaupun di sisi lain saya juga bersyukur bahwa saya sudah mendaftarkan diri untuk skripsi yang sudah tertunda selama “beberapa” bulan. Kemunduran saya dalam membaca ini diikuti pula dengan penurunan prokdufitas saya dalam menulis dan berkomunikasi. Saya mengalami kekurangan ide, gagasan, narasi atau bahkan sekedar obrolan ringan dengan teman “sebelah” saya.

Sebenarnya saya ada buku bacaan yang sudah lama sekali saya pinjam dari teman kampus saya tapi belum selesai saya baca sampai sekarang, mungkin ada yang pernah baca Dunia Sophie? itu sebenernya bukunya sangat menarik, menjelaskan filsafat yang banyak orang bilang rumit dan membingungkan, dengan pendekatan cerita sehingga penulisnya berharap filsafat ini lebih mudah dipahami. Saya mulai lumayan tertarik dengan filsafat setelah medengar ceramah Karlina Supelli. Dan akhirnya saya bertemu buku itu, membuka sedikit demi sedikit tapi kemudian berhenti. Belum saya lanjutkan lagi sampai sekarang. Saya sejujurnya juga sudah agak lupa dengan apa yang saya beberapa bulan yang lalu.

Saya coba mau mencari tahu akar permasalahan mengapa saya menjadi pribadi yang malas baca di Bulan September ini. Hal pertama yang paling mengambil alih hidup saya di Desember ini adalah YUTUB. Iya web satu ini mengambil porsi yang berlebihan dalam hidup saya. Dia semakin menguatkan karakter pasif saya. Merasa semuanya tersedia di Yutub, membuat saya tidak mau membaca buku. Membaca buku capek, lebih enak liat yutub, tinggal diem, kita bisa nonton dan dengerin. Just it. Dan sayangnya setelah itu saya tidak memfollow up apa yang saya tonton ini. Maksudnya tidak saya resume apa yang saya tonton, jadi abis itu langsung ilang.Secara khusus saya menembak Yutub, tapi secara umum saya sebenarnya juga menyoroti internet. Teknologi abad 21 ini, mulai merubah pola-pola hidup saya secara pribadi. Akibat dari saya terlalu banyak menonton Yutub, saya jadi tidak peka ketika berkomunikasi dengan orang, kosakata menjadi semakin berkurang karena saya jadi jarang baca. Saya jadi lebih sering ngeliat ada orang yang saking sibuknya bisa jalan nunduk. Oh iya, saya mungkin harus cerita kenapa saya langsung lompat ke yutub, tidak ke gawai, karena saya sejak Bulan April kehilangan gawai dan sampai sekarang belum beli lagi. Dan laptop menjadi alat canggih saya yang saya gunakan. Selanjutnya setelah Yutub dan teknologi, adalah skripsi. Ketakutan saya tentang skripsi yang disambi dengan baca buku non skripsi akan membuat skripsi saya ngadat terbukti tidak benar. Karena tanpa baca buku selain buku yang berhubungan dengan skripsi pun, skripsi saya tetap ngadat. Yang selanjutnya adalah tentan manajemen waktu saya yang masih perlu saya perbaiki. Saya sepakat dengan Charles Darwin yang bilang kalau spesies yang bisa bertahan bukan mereka yang kuat, pinter, ganteng ataupun cantik, tapi mereka yang bisa beradaptasi. Dan pengaturan ulang manajemen waktu adalah salah satu bentuk adapatasi yang semestinya saya lakukan ketika saya “pindah.”

Di penghujung tulisan ini saya ingin mengucapkan selamat kepada teman-teman yang masih bisa menyempatkan membaca buku di sela-sela kesibukanya, dan mungkin kalau berkenan bisa juga membuat tulisan tentang kisahnya ketika males baca terus ngapain, atau mungkin bisa sharing tentang pola pikir-pola pikir yang bisa ngebuat membaca buku itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Saya akan dengan senang hati mendengarkan. Awalnya saya menulis ini karena merasa tertegur oleh seseorang yang bilang, “Mulai berlatih sopan santun, mulai pilih kosakata yang diucapkan, benar-benar pikirkan apa yang dikeluarkan oleh mulut, perbanyak kosakata, gimana caranya? baca buku” Saya langusng bertanya kepada diri saya sendiri, September ini udah baca buku apa aja? dan bagian jiwa saya yang lain langsung bilang nggak baca buku sama sekali. Dan ini adalah sebuah keanehan dalam diri saya, yang dulu lumayan senang baca, tapi akhir-akhir ini cenderung malas baca. Bahkan saya baca berita itu jarang sekali baca lengkap, yang saya baca lengkap itu text book skripsi sama jurnal, selain karena lagi butuh, bahasanya juga memakai bahasa asing, jadi ya mau nggak mau harus lengkap.

Melalui tulisan ini, saya ingin memcoba kembali mengingatkan diri yang sudah jauh dari jalan yang benar, untuk kembali berjalan di jalan yang benar, jalan yang lurus, the right way, shiratal mustaqim. (Sarkas untuk para calon-calon presiden dagelan yang tidak mikir esensi dan substansi, tapi lebih mentingin kulit. Eh itu bukan calonya ding, timsesnya, maaf).

Thanks. Jazakallah.

Sudah sekitar 2 pekan saya tidak memprioritaskan laman ini untuk saya isi. Saya lebih senang berselancar di bukalapak dan shopee. Ah dasar mental konsumen!

Saya kali ini ingin menuliskan sedikit sesuatu yang mungkin sifatnya sangat personal. Dan nggak papa dong saya tulis disini. Setidaknya saya coba untuk mengekspresikanya, daripada hanya saya pendam, atau saya ceritakan ke teman. Jadi tadi ketika shalat maghrib, ingatan saya terlempar ke beberapa bulan ke belakang (ini disambung apa dipisah ya?). Di suatu malam, ketika itu saya dikasih feedback. Jadi setiap anak asrama diminta untuk memberi feedback tentang saya, apapun itu. Saya tidak tahu apakah itu feedback atau penghakiman. Saya sudah pernah menjalankan hal seperti ini sebelumnya. Walaupun berbeda metode, kalau yang sebelumnya itu setidaknya ada yang dikomentari (diberi feedback) tapi kalau yang setelahnya itu terkesan agak “serampangan”.

Saya coba jelaskan perbedaanya ya. Jadi sebut saja ada dua kejadian, malam 1 dan malam 2. Jadi yang malam 1 ini sebelum diberi feedback, setiap yang akan diberi feedback itu menjawab pertanyaan. Nha kemudian setelah dijawab dia baru diberi feedback. Sebelum ke feebacknya, diawali dengan kalimat, “Yang saya rasakan dari X adalah X blablabla.” Tapi yang malam 2 ini berbeda. Tanpa ngapa-ngapain, udah langsung difeedback. Dan entahlah, saya yang perasa atau emang nggak ngerti lah, saya masih ingat beberapa feeback yang menurut saya “aneh”. Jadi yang pertama, saya difeedback tidak peduli. Alasanya saya tidak menaikan handuk yang jatuh di lantai ke tempatnya.¬† Saya sebenernya terima-terima aja. Cuma saya merasa tidak pernah ngrasa liat handuk jatuh. Terus saya coba inget-inget terus, kapan saya naruh handuk bareng ni anak, sampe saya ingat, dan seingat saya waktu itu saya tidak melihat ada handuk jatuh. Saya tidak tahu ada handuk jatuh, bukan berarti saya tidak peduli. Saya disini sedikit banyak belajar sih, pertama jangan asal ngehakimin orang. Kedua, jadilah lebih peduli :).

Terus adalagi yang bilang saya sering ghibah, nggak respect sama orang (penafsiran bodoh saya, ini bahasa halusnya sombong dan merendahkan orang lain), ada yang bilang saya berbeda dan ngga ada semangat. Oke, tentang ghibah dan nggak respect sama orang mungkin itu jadi pembelajaran buat saya, saya terkadang tidak sadar membicarakan keburukan orang lain, di tulisan ini juga saya minta maaf kalau mungkin ada dari pembaca yang pernah saya ghibahi, saya jelek-jelekan di belakang. Buat orang-orang yang tidak saya hormati, padahal seharusnya saya hormati, untuk orang yang saya remehkan. Setelah malam itu saya kemudian ingat sesuatu sih, saya pernah bilang sama si anak yang ngefeedback saya nggak respect ini begini, “Eh buset, lari bentar aja tidurnya seharian.” Saya niatnya bercanda, cuma mungkin dia nganggep serius, jadi yaudah. Dan beberapa temen saya memang agak susah membedakan mana ketika saya bercanda atau serius sih. Kalau yang ghibah, saya jadi inget saya emang pernah ghibahin musyrif asrama karena peraturanya yang anak TK banget. Ya masak agenda asrama anak kuliah berdoa bersama sebelum tidur, bagus sih, tapi kan aku udah gede pak.

Terus yang bilang saya beda. Saya tidak terlalu masalah sebenernya dibilang beda, tapi ada lanjutanya, dia cerita kalau pas pemilihan mentee dia tidak mau sama saya. Yang bilang tersebut ustadz btw, yang nyimak hafalan kita tiap hari. Yaudah sih saya terima-terima aja. Yang membatasi diri kan situ, walaupun sebagai manusia saya agak sakit hati sih. Terus dibilang nggak semangat, pas itu saya sariawan 3 tempat, dan entahlah, pas sariawan itu badan saya kadang panas dingin gitu, mau ngomong susah, jadi yaudah. Saya tetep ikut kegiatan tapi jarang banget ngomong. Jadi yaudah, itulah tidak semangat.

Tapi setidaknya saya jadi ngerti salah-salah saya dimana sih, walaupun ada beberapa yang tidak tepat sasaran, tapi yaudah lah ya. Udah lewat juga

Udah lah ya nyampahnya, in syaa Allah besok sambung lagi. Ini saya abis nulis tafsir Al Insyirah, malah lanjut nulis ginian.