Udah lama banget nih aink nggak nulis. Nggak mau beralasan banyak deh, intinya akhir-akhir ini lagi males aja buat nulis. Entah kenapa kayak ada yang bisikin supaya males nulis gitu, yah mungkin itulah makhluk yang sering kita panggil kemalasan.

Ya, di kesempatan yang berbahagia ini, saya mau cerita tentang evolusi. Apa itu evolusi? Dan bagaimana pemahaman orang kebanyakan tentang evolusi? Dan kenapa kita harus membahas topic ini, topic yang dulu saya menganggapnya sangat dan sama sekali tidak penting, evolusi.

Di awal saya ingin jelaskan dulu pemahaman yang saya dapat ketika masih duduk di bangku SMA tentang apa itu evolusi. Sebenarnya saya dengar tentang kata evolusi itu udah sejak SMP sih, ketika di perpustakaan sekolah. Jadi kan di perpustakaan itu ada televise dan VCD player gitu kan, dan disitu Cuma boleh nyetel VCD-VCD yang ada di rak. Dan VCD-VCD yang di rak itu isinya adalah VCD-nya Harun Yahya, kalau nggak ya film The Message, film Omar Mukhtar dah itu doang yang saya ingat. Dari VCD-VCD-nya Harun Yahya ada satu VCD yang judulnya itu keruntuhan teori evolusi. Yah, disitulah pertama kali perkenalan dengan kata evolusi. Tapi sebelum itu juga sudah pernah denger sih, kalo kalian sering lihat kartun Digimon, disana bakalan sering keluar kata-kata Evolution! Tapi itu beda pembahasan cuy wkwk.

Di bangku SMP nggak terlalu dibahas tentang teori evolusi ini, yang saya tahu, teori evolusi ini adalah menganggap sebelum jadi Adam, manusia pertama, Adam ini sebelumnya adalah seekor monyet. ya dulu saya terima mentah-mentah pemahaman ini dan menganggap Darwin ini adalah orang bego, karena dialah yang mencetuskan teori evolusi ini. pemahaman ini terus tertancap pada pikiran saya hingga SMA. Saya mulai belajar teori evolusi ini lagi adalah ketika kelas 12, ketika itu sudah mau mendekati UN. Yang masih saya ingat tentang perkataan guru biologi saya waktu itu adalah, “Ya kita sepakat ya semuanya bahwa teori evolusi ini adalah teori yang salah, masa’ manusia kayak kita disamaiin sama kera, kan nggak logis. Tapi karena kita ini udah mau menghadapi UN dan di UN itu juga ada materi evolusi, maka mau tidak mau kita belajar juga tentang evolusi.” Dalam hati saya langsung mengumpat, “Ah, ini gimana sih kemendikbud, masa’ pelajaran yang udah jelas-jelas salah masih harus dipelajari, buang-buang waktu tauk, nggak penting!” dan saya sama sekali tidak memperhatikan apa yang disampaikan guru saya tentang teori evolusi. Yah, karena saya masih bersikukuh bahwa teori evolusi itu nggak penting dan bego. Udah gitu. Titik.

Tapi semua berubah ketika Negara api menyerang, pengumuman SNMPTN keluar dan saya diterima di Biologi. Saya masih nggak paham dengan scenario Allah ini, sampai sekarang bahkan. Tapi saya percaya aja gitu bahwa pilihan Allah itu selalu yang terbaik. Yah, di fakultas biologi saya akhirnya bertemu lagi dengan teori yang menurut saya nggak penting ini, yaitu evolusi. Yang dulunya saya menganggap ini adalah teori bego sampah, tapi sekarang di fakultas tempat saya belajar ini, evolusi jadi mata kuliah. Mata kuliah. Gila nggak tuh, saya awalnya juga heran kenapa sampe segitunya. Di semester-semester awal kuliah ada beberapa dosen yang menyinggung tentang evolusi dan mengatakan bahwa pemahaman kebanyakan orang tentang evolusi sudah salah kaprah. Apalagi ustadz dan kyai yang ikut-ikutan menghujat evolusi yang mereka sendiri juga belum pernah membaca karya The Origin of Species-nya Charles Darwin. Yah begitulah kira-kira testimoni para dosen tentang teori evolusi. Dan saya sebenarnya masih tetap bersikeras dalam diri saya mengatakan bahwa teori evolusi adalah teori yang salah. Tapi seiring berjalanya waktu, pemahaman saya tentang teori evolusi ini mulai berubah. Saya mulai mencari kemurnian teori evolusi itu sendiri, hingga akhirnya saya melihat ada satu halusi yang fatal dan kita anggap itu adalah informasi pentingnya. Tahu tentang gambar manusia yang sebelumnya adalah kera? Silahkan cari di buku The Origin of Species, terus bolak-balik tiap halamanya, tidak akan pernah ketemu itu gambar. Saya sendiri juga masih belum nemu siapa yang buat itu gambar, tapi yang jelas saya tahu adalah, informasi hipotesis teori evolusi yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera adalah sebuah kesalah pahaman yang terus diwariskan. Terus bagaimana pemahaman itu bisa muncul? Jadi yang saya tahu, dibuku itu dijelaskan bahwa kita, manusia memang bersaudara dengan kera. Hal ini dilihat dalam tingkatan taksonomi ordo kita dengan kera itu memang sama, yaitu Primata. Kenapa sama? Karena kita memiiki beberapa kesamaan dengan kera yaitu misal dalam wajah saja, kita memiliki posisi mata yang sama dengan kera, morfologi wajah juga hampir sama. Saya agak terlupa sebenarnya tentang definisi primata itu sendiri, mungkin dari teman-teman ada yang tahu, silahkan isi di kolom comment ya J. Saya sendiri sepakat kalau manusia memang bersaudara dengan kera, tapi sejujurnya saya tidak sepakat kalau kita dikatakan berasal dari kera. manusia dan kera adalah dua hal yang berbeda bagi saya. Itulah sedikit penjelasan saya terkait kera dan manusia seta hubunganya jika dikaitkan dengan teori evolusi.

Saya tidak bisa mengklaim bahwa pendapat saya inilah yang paling benar dan pendapat yang dipahami oleh sebagian besar masyarakat adalah salah, tapi saya coba berbagi saja tentang apa yang sudah saya pahami, dan kalau mungkin ada yang nggak sepakat mari kita diskusikan dengan tidak ada tendensi apapun. Jangan mentang-mentang saya percaya evolusi kemudian saya dibilang kafir dan sebutan-sebutan lain yang sejenis. Saya sangat senang jika diajak berdiskusi membicarakan berbagai macam hal, tapi ingat berdiskusi ya, bukan berdebat. Debat itu capek, masing-masing pengen menang sendiri dan masing-masing selalu merasa paling benar. Bagaimana supaya bisa menjadi paling benar, mau nggak mau ya, menyalahkan orang yang menjadi lawan debat kita. Dan hal seperti ini sangat sering terjadi dan mudah sekali kita temui. Dan baik sadar maupu tidak, terkadang saya juga melakukanya. Tapi sebisa mungkin saya menghindari hal-hal beginian, karena ya itu tadi, capek euy.

 

Advertisements

 

Sunten Jaya Bandung Barat, 14 Januari 2016.

Yeay, udah hari ke empat aja. Katanya hari ini ada kuliah tamu. Tapi yang jelas peserta disuruh datang pukul 09.00 dan jangan telat, karena pembicara nggak suka nunggu. Singkat cerita, kami bertemu dengan mbak Prapti Wahyuningsih. Beliau datang bersama ibunya Nek Sastro aku memanggilnya, seorang perempuan yang sudah berusia lanjut tapi tetap terus mau menemani anaknya yang ingin berbagi bersama kami, para siswa Sekolah Rakapare.

Sedikit aku ceritakan tentang Mbak Ningsih ini, beliau merupakan co-founder dari Sekolah Hijau Lestari. Sekolah non formal yang merupakan tempat belajar anak-anak untuk menulis, membaca dan berhitung. Beliau merupakan lulusan SD yang progresif menurut gw. Kadang sampe sekarang masih merasa malu aja sama diri sendiri yang kadang ngaku aktivis tapi belum melakukan apa-apa. Sepertinya saya perlu menjelaskan juga mengapa Mbak Ningsih sampai harus rela capek-capek buat ini sekolah. Satu hal, beliau merasa ada sesuatu yang tidak benar. Jadi di desa Pasir Angling itu, warga mayoritas berprofesi sebagai petani. Ketika panen, hasil panenya kemudian dijual ke tengkulak. Disinilah permasalahan mulai muncul. Tengkulak-tengkulak ini bermain curang, mereka menipu para petani yang tidak mengerti baca tulis hitung ini dalam transaksinya. Ketika menimbang misalnya, tengkulak ini berbohong dalam perolehan jumlah panenya, yang seharusnya 50 kg tapi dibilangnya 20 kg. Dan gw yakin, praktik kelicikan ini sudah berjalan sangat lama. Praktik kebrengsekan tengkulak seperti ini menurut gw tidak hanya terjadi disini, tapi terjadi di banyak tempat di seluruh Indonesia ini. Ah, sungguh terlalu memang tengkulak-tengkulak ini. Mereka tak ada bedanya dengan antek-antek capital jahat yang seharusnya dimusnahkan.

Akhirnya, Mbak Ningsih berinisiatif mendirikan sebuah wadah pembelajaran bagi anak-anak para petani ini, sehingga mereka bisa mengingatkan orang tuanya ketika para tengkulak ini melakukan praktik-praktik liciknya. Itulah tujuan awal Mbak Ningsih mendirikan Sekolah Hijau Lestari. Tapi jangan dianggap mengajak anak-anak desa ini untuk belajar adalah hal mudah, Mbak Ningsih selain harus menyiakan materi apa saja yang harus dia berikan, dia juga harus bisa membuat anak-anak ini mau belajar bersamanya. Mbak Ningsih mencoba berbagai cara agar anak-anak ini mau belajar bersamanya. Bukan hal yang mudah menurut gw. Ngajar anak-anak TPA aja kadang gw ngrasa kelabakan wkwk.

Singkat cerita akhirnya Mbak Ningsih akhirnya berhasil melakukan kegiatan belajar di Sekolah Hijau Lestari ini. Walaupun harus dengan acara sembunyiin kambing segala wkwk. Dan bukan mimpi lagi ketika para tengkulak ini harus lebih susah dalam membohongi para petani ketika bertransaksi karena disana anak-anak petani ini berani mengingatkan ayahnya bahwa si tengkulak sudah berbohong dan menipu orang tuanya. Dan repetisi ini terus berlanjut. Dan tinggal menunggu waktu saja para tengkulak ini benar-benar geram dan menyusun rencana untuk menutup kegiatan belajar di Sekolah Hijau Lestari. Kalian tahu apa yang dilakukan oleh para oknum tengkulak ini, mereka beramai-ramai memperkosa Mbak Ningsih dan akhirnya Mbak Ningsih hamil dan para warga akhirnya menganggap Mbak Ningsih ini adalah perempuan yang “nakal” dan akhirya banyak dari mereka yang melarang anaknya untuk belajar bersamanya di Sekolah Hijau Lestari. Tapi beliau tetap tabah, dan tetap mengajar di sekolahnya karena tetap masih ada orang yang percaya bahwa dia sebenernya telah dijebak oleh para oknum tengkulak. Ah, gue sampai cerita ini sebenernya kaget juga dan berfikir, “Sampe segitunya ya?”

Jangan dikira juga bahwa Mbak Ningsih ini adalah seorang yang sehat bugar gitu, belaiu barusan melakukan operasi kanker payudara. Dan satu hal yang bikin gw kaget lagi, dia tunjukin beneran coba. Jadi beliau baru selesai melakukan operasi pengangkatan payudara, dan sampe disitu gw bener-bener tertampar deh pokoknya. Dulu gue pernah punya mimpi buat bikin sekolah gitu, dan sampai sekarang gue masih merawatnya alias tidak progress-progress wkwk. Tapi Mbak Ningsih ini dengan segala keterbatasan yang ada, tidak pernah menganggap itu keterbatasa, tapi dia selalu merubahnya menjadi tantangan. Dan satu lagi, sebenernya Mbak Ningsih ini juga nggak tau orang tua kandungnya siapa, dan Nek Sastro merupakan orang tua angkat yang kebetulan saja tidak punya anak dan menerima Mbak Ningsih untuk dijadikan anaknya. Dan mereka juga pernah berantem sampai Nek Sastro ini bener-bener pergi dari rumah selama 3 bulan. Selama waktu itu, Mbak Ningsih mengerahkan seluruh kenalannya untuk ikut membantu mencari, termasuk Komune Rakapare juga ikut membantu. Kemudian akhirnya Nek Sastro benar-benar ketemu ketika di Solo. Di tempat kelahiranya. Gw sebenernya penasaran sama sebab Nek Sastro ini pergi dari rumah, ternyata sebabnya itu Nek Sastro nggak mau make baju yang dikasih sama Mbak Ningsih, bajunya makenya batik jaman dulu terus dan akhirnya dimarahi sama Mbak Ningsih dan Nek Sastro ini pergi, yah, begitulah.

Oh iya, ketika Mbak ningsih ini divonis mengidap kanker payudara, beliau sudah mau bunuh diri sebenernya, tapi ketika hendak menggantung, dia dapet telepon dari temenya buat operasi gratis. Dan akhirnya dia nggak jadi bunuh diri. Sebelumnya dia juga sudah cari donasi kalo nggak salah, tapi masih kurang. Pokoknya ini dramatis banget deh menurut aing. Kayak sinetron-sinetron gitu. Setelah mendengar cerita dari Mbak Ningsih ini, gue jadi berfikir jangan-jangan sinetron-sinetron yang sempet kita tonton dulu ternyata adalah adaptasi dari kisah hidupnya Mbak Ningsih (apaan sih). yah, intinya sesi ini menampar kebanyakan dari kita dan terutama gue. Kita yang masih sehat-sehat ini, ayolah bergerak, setidaknya bergerak dulu, kalo bangun jangan siang-siang, jam setengah lima pagi itu setidaknya udah bangun, beres-beres kasur dan shalat subuh. Jeda antara waktu itu jangan tidur lagi tapi cob abaca-baca buku atau olahraga apalah, yang penting jangan tidur. Buat yang masih bangun kesiangan, nggak papa. Semua itu butuh waktu, gue juga masih sering bangun siang kok wkwk.

Abis dengerin cerita dari Mbak Ningsih, bareng sama temen-temen kita balik ke rumah kita dan istirahat bentar. Makan, ngobrol-ngobrol, ngrokok buat yang merokok, mandi mungkin dan kegiatan lainya. Abis selesai istirahat kita balik lagi buat dengerin materi dari Kang Bhatara tentang Politik dan Strategi. Disana dijelasin sama Kang Bhat tentang apa itu politik, apa itu strategi apa itu taktik lalala deh. Gw pas dikasih materi itu cuma bisa bilang oh gitu ya, oh iya ya, dan bahkan cuma bisa bergumam yang menandakan bahwa seperti baru pertama kali aku mendapatkan materi tentang politik dan kawan-kawanya. Kang bhat juga jelasin tentang The Law of Identity, sebenernya gw agak lupa mana duluan antara materi The Law of Identity sama Politik dan Strategi, tapi yang jelas kedua materi itu dilaksanakan pada hari yang sama.

Gw mau sedikit jelasin tentang materi politik dan strategi dulu ya. Setiap manusia pada dasarnya sering melakukan politik. Menurut gw sendiri nih ya, ketika memilih sesuatu itu sebenernya kita sedang melakukan praktik politik. Terlepas kita menganggap bahwa politik itu kotor, busuk, rusak atau apalah itu, tapi menurut gw itulah yang sebenarnya terjadi. Kita bisa mengatakan tidak suka sama politiik , atau bahkan memaki-makinya, tapi sebenernya kita setiap hari bisa jadi melakukan praktik yang namanya politik. Dan dalam melakukan politik itu kita punya yang namanya strategi dan taktik. Strategi merupakan cara untuk meraih kemenangan dengan kemenangan ( kalian harus bingung dibagian ini wkwk) sedangkan taktik adalah cara kita menggunakan asset kita yang berupa keilmuan, jejaring pertemanan dan sumber daya lain untuk meraih kemenangan. Menurutku antara strategi dan taktik ini harus banyak kita terapkan di lapangan dan kita gunakan untuk meraih tujuan-tujuan politik yang baik sehingga akan semakin banyak masalah-masalah yang akan bisa terselesaikan. Simulasi materi ini adalah permainan lingkar balik (ini gw namain sendiri). Jadi sebelumnya kita sekitar ber 14 orang atau 12 orang berkumpul membentuk lingkaran menghadap kedalam (nangkep kan ya?), kemudian masing-masing kita secara berpasangan meraih tangan yang ada di depanya, nha setelah semuanya udah dapet pasangan, kan itu satu tangan kan (tangan kiri), tangan satunya memegang tangan temen yang ada di sebelah kiri temen kita tadi. Begitu seterusnya. Nha misinya adalah kita yang menghadap kedalam ini, gimana caranya bisa menghadap keluar semua. Cukup lama kita cari cara untuk bisa selesaiin misi ini, tapi sampai akhir sesi ini hanya satu kelompok yang bisa berhasil selesaiin misi ini. Dari sesi permainan ini gw dapet pelajaran, bahwa kita harus tahu tujuan apa yang ingin kita tuju sebelum kita menentukan strategi dan taktik apa yang akan kita pake, kenali dulu baru bertindak. Abis itu kita belajar yang namanya The Law of Identity, materi ini gw agak nggak nangkep secara keseluruhan, karena posisi gw yang nggak enak, dan susah liat tulisanya Kang Bhat wkwk. Ya Allah alesanya ada aja. Intinya yang gw dapet itu kita harus mencari kemurnian dari sesuatu itu. Karena apa yang kita dapet hari ini belum tentu itu merupakan sesuatu yang pertama kali dulu muncul, paham nggak? Karena mungkin banyak sekali noise-noise yang ikut mempengaruhi pesan itu sampai ke kita. Dan bahkan kita sendiri pun kadang bisa salah dalam menfsirkan pesan yang kita dapet itu. Kalo pengaruhnya dari dalem itu disebutnya Ilusi sedangkan kalo dari luar atau bisa berupa noise-noise gitu namanya Halusi. Yah, intinya cari kemurnian dari sesuatu yang kita yakini deh, apapun itu, misalkan agama, atau ini, gw kan anak fakultas biologi ya, jangan bilang Charles Darwin itu salah dengan teori evolusi-nya sebelum lo baca The Origin of Species-nya dan mungkin hal-hal lain. Kalo kata Kang Bhat yang kata-kata itu diabadikan oleh Angger di blognya tu gini, Membencilah untuk mengerti, mengertilah untuk menjadi. Yah, setelah materi selesai, bareng sama temen-temen gw balik ke rumah. Gw tidur, tapi ada temen-temen yang milih buat diskusi lanjut ama Kang Bhat, yah, kalo aing mah udah capek pisan euy wkwk. Jadi ya tidur aja.

(Bersambung)

Fakultas Biologi. Fakultas yang terkenal lebih banyak ceweknya daripada cowoknya. Walaupun memang tidak sejomplang kedokteran gigi atau farmasi dalam hal perbandingan, tapi hampir lebih dari separuh mahasiswa biologi di kampusku adalah cewek. Mulai kalimat ini saya akan mengganti kata cewek menjadi perempuan dan cowok menjadi laki-laki. Fenomena bukanlah suatu masalah yang terlalu serius, mengingat fenomena ini hampir terjadi setiap tahun. Jadi biasa aja deh ya. Tapi terkadang ini menjadi dilema juga bagi saya pribadi. Oke saya akan mulai cerita.

Saya adalah termasuk orang yang dengan sekuat tenaga menjaga interaksi dengan lawan jenis. Saya membatasi diri saya dalam hal bersentuhan dengan lawan jenis, baik itu berupa bersalaman atau bahkan sampai membocengkan dalam suatu perjalanan. Tapi terkadang disinilah titik ujianya. Sejujurnya saya belum pernah bersalaman dengan lawan jenis selama menjadi mahasiswa, akan tetapi berboncengan? Sejujurnya saya sudah beberapa kali. Ketika saya mau menolak, beberapa teman malah menyangka saya terlalu islamis, atau terlalu taat atau apalah menurut mereka. Dan saya akhirnya memboncengkan juga teman perempuan. Sudah beberapa kali kejadian seperti ini terjadi. Mungkin saya bisa memilih untuk membocengkan teman saya yang laki-laki, tapi kembali ke pragraf atas, lebih banyak mahasiswinya dibanding mahasiswanya, itulah biologi.

Saya sempat bercerita permasalahan ini ke beberapa teman saya, dan beberapa teman saya itu menganjurkan untuk terus terang saja kepada teman-teman yang lain kalau saya memang tidak mau membocengkan lawan jenis. Oke, saya jalankan itu, hingga beberapa kali saya disuruh untuk mengantar teman perempuan dan akhirnya saya menyuruhnya untuk mencari tumpangan lain. Cara ini cukup berhasil. Beberapa kali saya terbebas dari jebakan batman haha. Saya sebenarnya juga sudah berjanji untuk memboncengkn lawan jenis yang bukan mahrom lagi. Tapi tidak untuk malam itu. Ini kejadianya malam, dan bagaimana perasaan seorang laki-laki membiarkan teman perempuanya berjalan sendirian pulang ke kos? Kalo nggak kasihan sama sekali hebat deh. Gue acungin jempol. Sayangnya tidak untuk saya.

Ketika temen saya mau pulang ternyata dia sendirian, dan tidak ada yang mengantar, kemudian dia minta tolong saya untuk mengantarkan ke kosnya karena selain juga karena dia perempuan, jalan ke arah kontrakan saya dan kos dia satu arah, jadi mau alasan apa lagi coba. Sejujurnya ada sesuatu yang mengganjal dalam hati saya kalau apa yang saya lakukan ini adalah perbuatan yang tidak benar. Hingga akhirnya kami bertemu teman perempuan yang sedang berjalan sendirian juga yang tak lain adalah teman dari teman yang saya boncengkan . Ya, temanya ini pulang malam sendirian. Saya sempat berfikir untuk ikut menaikan perempuan itu ke motor saya, dan alhasil motor saya dinaiki oleh tiga orang, tapi ini adalah cara bodoh dari sebuah penyelesaian masalah. Karena iba, ternyata teman saya yang saya boncengkan turun, dan berkata, “Aku turun aja ziz, kalo dia jalan aku juga jalan, kasihan dia sendirian. Kapan-kapan aja ziz aku bonceng kamunya haha.” Serius saya bahagia banget deh rasanya, dalam hati saya menjawab, “Iya kapan-kapan aja, dan semoga kejadianya sama seperti hari ini, haha.” Itulah jawaban Allah atas kegelisahan saya menurut saya. Allah sebenarnya tahu apa yang terbaik untuk kita. Tapi terkadang kitanya saja yang susah untuk memahami. Walaupun sebenarnya saya kasihan juga dengan mereka, tapi mau gimana lagi. Berjalan berdua dalam kegelapan selalu lebih baik daripada berjalan sendirian kan?

Yeay, tercatat tanggal 8 Febuari 2016 akhirnya gw bisa menghadiri reuni SMP. Walaupun tidak benar-benar hadir ketika acaranya, tapi beruntungnya gw masih bisa ketemu temen-temen ketika acaranya udah benar-benar bubar. Bertemu wajah-wajah mereka yang baru, sifat-sifat mereka yang masih tetap saja sama, walaupun dibalut dengan style yang berbeda, tapi tak apa, setidaknya aku masih mengenal mereka satu per satu. Yang dulu kurus, sekarang udah gemuk, yang dulu gemuk, sekarang udah kurus, yang dulunya kelihatan sholih sekarang sudah, ya begitulah.

Oh iya, gw mau perkenalan sedikit tentang sekolah gw ini ya, nama sekolahnya adalah SMPIT Ihsanul Fikri. Sekolah ini bersistem Boarding School, jadi selama 24 jam kamu bakala tinggal di sekolah itu, alias nginep. Lo bakalan bisa ngelihat tindak-tanduk temen-temen lo selama 24 jam itu. Lo bisa tahu sifat-sifatnya, bahkan bisa jadi masa lalunya, karena kalo malem-malem gitu kita bisa ngobrol sampe larut malem Cuma buat bicarain masa lalu. Pertama masuk SMP dengan system yang Boarding School ini, jujur gw sedih gitu, harus ninggalin Ayah, ibu, adik, rumah dang w juga agak iri sama temen-temen gw yang pas masa SD bisa ngelanjutin di SMP yang sistemnya full day, enak aja gitu, bisa pulang, makanya bisa request, Lha di SMP ini, makanya harus ngikut sama yang punya dapur. Intinya gw masuk ke SMP ini pertama kali gw sedih dan bahkan sempet beberapa kali nangis. Ya, selain karena gw masih bocil, kangen juga sih ama rumah.

Tapi hari berganti hari, bulan-bulan berganti bulan, mantan berganti gebetan (apaan sih), akhirnya gw sudah cukup bisa menyesuaikan diri dengan iklim di asrama ini. Di awal karena gw masih sedih gitu, gw sangat jarang sekali mau ngobrol ama temen yang bahkan sekamar (satu kamar kapasitas 14 orang – 18 orang, ada juga kamar kecil yang berkapasitas 8 orang). Dan gw nggak nyadar gitu kalo temen-temen gw sampe kesel, dan puncaknya ketika pas jam belajar gw ketiduran dan mereka bersekongkol untuk tidak membangunkan gw hingga akhirnya guru asrama datang dan memarahi gw. Dimarahi doang? Nggak lah, gw juga disuruh lari muter lapangan basket. Yah, begitulah. Tapi waktu itu gw masih nggak sadar kalo dikerjain gitu, sadarnya pas udah kelas 9 kalo nggak salah. Waktu itu ada yang cerita pengalaman-pengalaman pas masih kelas 7 gitu. Kalo gw sekolah full day kan gw nggak bakalan nemu yang kayak beginian wkwk. Yah, pokoknya kalo sekolah di Boarding tu lo bakalan nemu hal-hal seru deh. Yah, mungkin lo nggak bakalan nemu tawuran pake gear gitu, tapi di sekolah Boarding itu yang lo temui adalah hal-hal konyol men. Masak mie pake setrika, buat roti bakar pake setrika, tidur bareng satu kasur, terus mandi kudu ngantri, kalo kelamaan digedor-gedor, kabur bareng, yah pokoknya banyak lah.

SMP IT IF

Gambar 1. Ditempat inilah gw dulu tumbuh. Masjid Mujahidin yang sekarang sudah berganti nama menjadi Masjid Mujahidat.

Dan pertemuan dengan mereka adalah pertemuan yang menurut gw sangat disayangkan untuk dilewatkan. Jujur ketika dulu gw masih SMA, gw nggak mau tuh dateng ke reuni SMP. Alasanya normative, mereka sudah nggak memegang apa yang kita bareng-bareng dapet ketika SMP. Simple kan. Dan itu juga banyak diikuti sama anak-anak SMA yang sama kayak gue (SMA gue di SMA dengan nama yang sama dengan SMP gue, SMAIT Ihsanul Fikri). Tapi gw semakin kesini gw jadi mikir juga, mungkin pendapat diatas bener, tapi bagaimanapun mereka adalah temen-temen gw, temen yang siang malam hidup bareng gue, kalo gue ada apa-apa gw juga minta bantuanya ke mereka, temen-temen yang ngasih tau gw hal-hal yang belum pernah gw temui sebelumnya dang gw nggak mau menemui mereka cuma gara-gara gw berfikir bahwa gw bukan bagian dari mereka karena gw sama mereka sudah berbeda? Iya mungkin mereka merokok dan gw nggak merokok, mungkin yang cewek-cewek sudah tidak berbaju seperti dulu ketika mereka SMP, tapi bagaimanapun mereka tetep temen gw. Teman.

Perbedaan dan perubahan adalah hal yang wajar menurutku, kita nggak bisa memaksakan supaya apa yang ada dalam pikiran kita tentang apa seharusnya seseorang, itu bisa tercipta dalam diri orang itu. Kita ini adalah subjek, mereka juga subjek, nggak bisa kita memaksakan mereka menjadi objek (walaupun dalam beberapa kasus, hal ini bisa dilakukan). Mereka punya hidup dan dunia mereka masing-masing. Walaupun begitu, relasi dengan kehidupan mereka yang masing-masnig itu menjadi penting karena kita pernah punya ikatan dengan mereka, sama-sama pernah belajar bersama. Penerimaan perbedaan dan perubahan adalah suatu hal yang mungkin harus mulai gw latih. Mungkin dari TK sampe SMA gue nggak pernah tuh yang namanya belajar di instansi negri, semua swasta berlabelkan kata Islam Terpadu. Jadi gue nggak pernah ketemu anak yang istirahat gitu, terus pergi ke kantin ngrokok atau anak-anak yang pacaran terang-terangan (hal-hal kayak gini baru gw temui ketika kuliah sih). Jadi kehidupan gw terasa cuma ketemu sama orang-orang itu terus gitu (baca:islam). Jadi ya, keberagaman dalam hidup gw masih kurang gitu. Tapi jangan anggap gw nggak bersyukur gitu ketika selam TK sampe SMA gw tinggal di lingkungan islami gitu, nggak, gw bilang sekali lagi nggak. Karena itulah yang menggirng gw bisa sampe sekarang, bisa menulis ini juga gw mikir gara-gara gw dulu pernah hidup di lingkungan islam gitu. Jadi jangan anggap gw menyesal yes. Gw tetep bersyukur kok, bisa ketemu ustadz-ustadz yang kece abis, ketemu bu dapur yang sabar gila, ketemu temen-temen dengan segala keunikanya, ah, yang kayak-kayak ginian nggak bakalan gw temui di tempat lain sih menurutku. Satu hal yang gw permasalahin sebenernya, Kenapa beberapa orang (bahkan dulu gw termasuk) nggak mau ketemu temen mereka karena berfikir kalo temen-temen mereka udah berubah. Yah, tentang penerimaan perubahan yang gw permasalahin disini.

Ini mungkin Cuma opini gw sebagai manusia yang punya banyak kesalahan. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa gw bisa juga menjadi benar. Apakah lo nggak mau ngakuin temen lo cuma gara-gara mereka menjadi berbeda sama lo dalam hal memandang sesuatu? Selama tidak melanggar batas kewajaran sih, (bahkan istilah batas kewajaran ini menurutku nggak bisa dipakemkan deh, patokanya norma sama hati nurani aja deh, al-quran juga) menurutku memutus pertemanan adalah hal yang jahat sih. Iya, jahat. Menerima seseorang apa adanya adalah hal yang harus mulai kita latih, jangan terlalu saklek dengan segala apa yang ada dalam pikiran lo, kalo lo emang lo mau merubah sesuatu, ketahui dulu apa yang mau lo ubah. Jangan lo mau merubah dengan tangan besi gitu, Karen nanti jatuh-jatuhnya lo bakalan kehilangan sisi memanusiakan seseorang. Lo bakalan menganggap seseorang itu kayak barang aja, dan ini menurut gw nggak baik jika diterapkan dalam pergaulan.

Sumber gambar : http://www.cumikriting.com/2012/02/penerimaan-siswa-baru-smpit-ihsanul.html diakses pada tanggal 9 Febuari 2016 pukul 5:53 WIB.

 

Sunten Jaya Bandung Barat, 13 Januari 2016.

Bangun pagi, seperti biasa dingin. Setelah sarapan, gue pergi ke rumah Pak Dadang untuk pergi ke ladang. Nha hari ini gue niatnya mau pergi ke ladang, cari rumput atau bantu-bantu apa lah. Ketika sampai di rumah Pak Dadang ternyata anak-anaknya masih belum pada makan, dan alhasil gue jadi ngobrol-ngobrol dan sesekali mengambil gorengan yang disediakan di rumah Pak Dadang. Setelah mereka sarapan, akhirnya kita pergi ke kandang sapinya Pak Dadang. Niatnya kasih makan, tapi ternyata ketika sampai di tempatnya, kita ketemu sama anaknya Pak Dadang dan katanya sapinya sudah dikasih makan. Yaudah sih, akhirnya kita memutuskan untuk bantu untuk ikut cari rumput aja. Walaupun sebenernya sempet beberapa kali coba kasih makan. Ketika nyoba kasih makan, sapinya kelihatan rakus banget, kayak belum dikasih makan, tapi karena kata anaknya Pak Dadangnya udah dikasih makan, yaudah sih. Oh iya, gue pergi cari rumput ini bareng Irfan, Ghiffary, Hafidz sama Fahrul. Mereka semua adalah anak-anaknya Pak Dadang, Cuma gue doang yang anaknya Pak Anem. Jalan menuju ladang Pak Dadang sangat rusak, berbatu terus banyak kubangan dimana-mana. Kalo jalan kaki masih okelah, tapi kendalanya jauh sih, tapi kalo naik motor, memang cepet, bisa cepet sampai, tapi bisa juga cepet ke surganya wkwk. Jalanya ngeri pisan deh, tapi kalo emang udah sering kayak anaknya Pak Dadang mah nggak masalah, cuma kadang yang lihat ngrasa ngeri aja sih. Kami hanya membantu sekali pengangkatan saja jadinya karena harus sudah sampai di selasar masjid buat ikut pematerian.

Materi pertama hari ini adalah tentang sejarah ideology. Ini yang jadi pembicara siapa ya, yang gue inget pokoknya di orang Jakarta dan pernah kuliah di Hubungan Internasional UGM. Beliau menjelaskan sejarah ideology dari mulai sebelum ada ideology itu sendiri. Terus dia juga memantik kita untuk menemukan kenapa sih ideology itu bisa muncul. Gue nggak nyatet pas materi ini, terlalu banyak yang nggak gue inget juga. Terlalu nyaman sama masnya, jadinya lebih seneng ndengerin daripada nyatet. Jadi masnya seinget gue jelasin timeline mulai dari feudal terus muncul kapitalisme terus muncul komunis, sosialis fasis dan muter terus itu. Tapi gue sebenernya juga lupa sih. Kalo mungin ada yang lebih tahu, sok atuh isi di kolom komentar. Terus kita dapat deh itu materi IDEOPOLISTRATA, buat gue anak yang belajar ilmu sains, ini merupakan hal baru menurut gue. IDEOPOLISTRATA merupakan singkatan dari Ideologi-Politik-Strategi-Taktik. Pembahasan ini memakan waktu yang cukup lama. Ada simulasi permainan-permainan juga. Yang jadi pembicara di materi ini adalah Kang Bhatara, beliau jelasin pertama tentang ideology. Jelasin satu ini aja udah lama banget meen. Banyak banget pertanyaan yang muncul dari temen-temen. Satu hal yang gue dapet dari pematerian ini adalah, ideology yang paling cocok adalah ideology yang sesuai dengan ruang dan waktunya. Udah gitu aja. Kita juga harus bisa tidak hanya membuka pikiran tapi harus juga membuka hati ketika berbicara tentang ideology ini. Kita juga tidak boleh terbatas hanya pada satu sudut pandang, karena kalo udah gini menurut gue lo nggak bakalan bisa menerima kebaikan dari orang lain (baca:ideology lain). Iya nggak sih? karena lo udah terlalu kaku dalam berjalan menurut gue, udah terlalu sa klek lah. Terus setelah itu dalam berideologi kita harus mengetahui kemurnian dari ideology yang kita ambil. Misal nih ya, lo ngomong kalo ideology yang lo pake hari ini adalah Sosialisme, lo harus tahu bagaimana Sosialisme itu muncul pertama kali, ketika Sosialisme itu muncul pertama kali, karena kemurnian dari Sosialisme itu ada disana. Yah, dalam berideologi kamu harus tahu kemurnian dari ideology yang kamu pakai. Karena yang asli beda dengan yang murni.

ideology itu terdiri dari beberapa komponen hingga akhirnya kita bisa menemukan ideology. Yang pertama adalah Id yang merupakan singkatan dari Instinct and Drive. Instinc dan drive ini dihasilkan dari doktrin-doktrin yang pernah kita terima di masa lalu, contohnya sederhana seperti jangan suka mencuri, berdirilah di atas kakimu sendiri alias jangan pernah mengharapkan bantuan dari orang lain dan doktrin-doktrin lain. Setelah itu ada Idea yang berarti pemikiran. Yah pada paham kan tentang pemikiran, setelah Idea atau pemikiran kita akan menemukan Idealism. Idealism disini akan mengarahkan kita kepada hal-hal yang bersifat utopis, misalkan keadaan dimana tanpa adanya kelas, tanpa perbedaan, itukan seperti hal-hal yang nggak bakalan terjadi kan. Ketika idealism ini bertemu dengan realita, maka kita akan menemukan Ideolgy yang akan berwujud dalam bentuk ilmu. Setelah kita bertemu dengan ideology kita akan menemukan yang namanya Identity. Identity disini tidak perlu ditunjukan karena akan tercermin dalam segala perilaku dan Identity tidak akan pernah selesai dicari. Dalam berideologi kita juga harus bisa membuat tatanan yang dilandasi oleh logika yang kemudian kita buat itu jadi tuntunan yang akan menjadi pegangan kita dan setelah kita yakin dengan tuntunan itu baru kita buat dia menjadi tontonan. Tapi satu hal yang penting untuk dicatat adalah, jangan pernah memaksakan ideology kita kepada orang lain. Simple as that!

Gue agak lupa sebenernya setelah materi ideology ini kita ngapain, oh iya ada juga kita nyari doktrin-doktrin yang pernah kita dapet sewaktu kecil, perbuatan baik yang pernah kita lakuin sama perbuatan buruk juga. Abis itu kita ceritain deh itu ke temen kita. Oh iya, sebelumnya kita cari pasangan kita masing-masing dulu yang belum pernah kita ngobrol sejak dari pertama kali dateng ke Sunten Jaya, bukan, sejak dari Bandung. Dan akhirnya gue ketemu sama yang namanya Nugra, anak Jakarta yang kuliah di UNS. Dan di sesi akhir, akhirnya gue menyadari, bahwa itulah gue. Menurut gue, manusia itu dinilai (walaupun tidak bermaksud kita harus membeda-bedakan orang ya) dari perbuatanya, pencuri sekalipun tetap pencuri sekalipun mulutnya mengatakan bahwa dia adalah ustadz.

Setelah materi ini dicukupkan, kita dibagi menjadi beberapa kelompok. Kemudian masing-masing kelompok diminta untuk menamai kelompoknya dengan nama-nama band alay. Mungkin kalo dari sebagian banyak kepala nih ya, ketika ada perintah seperti itu akan ada satu nama band yang bakalan muncul pertama kali yaitu Kangen Band. Jujur, gue yang muncul pertama kali adalah Kangen Band, karena apa ya, kangen band ini selain emang sensasional, band ini emang sudah mendapat labelling yang begitu kuat, sebagai (maaf) band yang jelek. Dengan segala hormat, dengan tidak bermaksud untuk mencemarkan nama baik, tapi mau gimana lagi ya, dimana-mana kalo mau jadiin lelucon, band yang sering dijadiin lelucon ya kangen band, selain karena emang vokalisnya ganteng nggak ketulungan. Ya Allah, jahat banget sih gue. Tapi nggak boleh gitu, setiap sesuatu pasti ada positifnya kok, termasuk jua Kangen Band ini. Tapi mungkin guenya aja yang belum nemu atau emang nggak ada positifnya wkwk. Ah sudah lah, mencari sisi positif ini band bakalan makan waktu lama emang. Karena pemabahasan ideology ini nyampe maghrib, dan akhirnya mulai lagi abis isya. Nha, kita kan udah dibagi kelompok nih ya, kita disuruh juga buat jargon dari lirik band alay itu, pokoknya kocak deh. Abis itu kita disuruh milih antara dua pilihan. Misal nih, lo tinggal punya duit Rp. 5.000, buat lo foto copy tugas, tapi disaat yang sama ada seorang ibu yang lagi dimaki-maki sama penjual karena dia makan nasi telor tapi nggak bawa duit, nha, lo mau tetep maksain duit itu buat foto copy apa buat bayarin ibu itu. Pertanyaanya model-model kayak gitu lah. nha, misal nih ada satu kelompok yang beda, kelompok itu bakalan dibantai sama seluruh kelompok yang pendapatnya sama. Semakin naik ke tingkat pertanyaanya selanjutnya, tingkat pertimbanganya bakalan lebih sulit.

Abis selesai itu bantai-bantaian, kita masuk ke masjid dan buat lingkaran gede gitu, terus nanti bakalan dikasih pernyataan-pernyataan yang pilihanya ada abstain, setuju dan tidak setuju. Dari setiap kita memilih itu kita harus punya alasan kenapa kita memilih keputusan itu. Paling gampang abstain sih, tinggal bilang aja kita nggak tau kasus itu, selesai. Misal pernyataanya tu kayak, Hukuman mati harus dilaksanakan di Indonesia. Itu bakalan muncul jawaban yang beda-beda dari tiap person, dan itu yang buat seruuu. Pokoknya seru deh pas ini. Pernyataanya itu kadang buat bingung gitu. Kayak penghapusan kolom KTP, Istri harus nurut sama suami dan masih banyak pernyataan lain. abis selesai ini aku nggak terlalu inget apakah langsung malam budaya apa nggak, tapi kalo nggak salah sih iya. Malam budaya diisi sama akustikan temen-temen, puisi-puisi keren dari kang Pasha, (dia pemenang apresiasi sastra ITB btw) mungkin ada yang pas zaman SMA nemuin puisi ping pong-ping pong gitu, gue dulu nganggepnya Cuma unik ditulisan doang kan, kan itu penulisanya dibuat lingker-lingker gitu, tapi pas di abaca, beh, keren pisan euy. Terus kang Ibenk juga nyanyiin lagunya paying teduh yang tidurlah sama untuk perempuan yang sedang dalam pelukan. Pokoknya malem itu berasa sendu banget dah. Tapi kalo menurut gue ya, ini malam budaya seharusnya di taroh di malem terakhir aja deh, biar jadi bener-bener sendu gitu. Menurut gue sih, mungkin aja sih dari pantia ada pertimbangan lain, yang mungkin gue nggak tau. Yah tapi seriusan malem itu udah bikin gue nyaman banget dah.

Kita bener-bener balik ke rumah itu kalo nggak salah sekitaran jam 00.30 deh. Malem banget ya? Setidaknya malam itu tidak hujan, tapi sandalnya dingin banget dah. Kita berjalan. Pulang. Bersama-sama. Lagi.

(Bersambung)

Sunten Jaya Bandung Barat, 12 Januari 2016.

(Gue sebenernya udah agak lupa-lupa sama materinya tapi beruntung udah ada yang ngepost duluan tentang kegiatan yang dijalani tiap harinya, jadi kadang-kadang nyontek diblognya. Blognya Rani anak Teknik UI 2013, monggo temen-temen yang udah nggak sabaran nungguin cerita gue, bisa langsung cek di blognya Rani di ranihijrianti.tumblr.com)

Hari kedua tinggal di tempatnya Bu Anem dan Pak Anem. Dan menyesal sekali ketika ternyata bangun tidur pagi ini telat sangat. Jam 05.59 aku baru benar-benar bangun dari tempat tidur dan bergegas mencari air wudlu dan melaksanakan shalat subuh. Dan tentu saja ketika bangun Bu Anem sudah selesai menggoreng jualanya, sedih banget rasanya nggak bisa bantu Bu Anem. Kita kayak Cuma numpang tidur doang. Tapi gue akhirnya bantu-bantu ngiris sayur yang bakalan dimasak sama ibu. Yah, setidaknya gue nyari kerjaan yang bisa bantu kerjaan ibu deh. Kita mulai pematerian setelah shalat dzuhur. Sebenernya bukan materi juga sih, jadi kita dibagi kelompok gitu, terus diminta buat wawancara ke masyarakat tentang beberapa aspek kehidupan. Yang jelas kita dikasih tau aspeknya, terus suruh nanya-nanya langsung ke warga, gimana keadaan aspek itu di desa ini, terus apa sebabnya kok bisa gitu dan mungkin harapanya. Gue nggak tau aspek apa aja yang dibagi ke seluruh kelompok karena pas itu datengnya telat, tapi pokoknya kelompok gue dapet tentang aspek kepemudaan.

Gue pengen sedikit ceritatentang aspek kepemudaan yang ada didaerah yang kami tempati sekarang. Jadi keadaan kepemudaan di desa Sunten Jaya, terutama di RT 03 (ini RTnya daerah yang kita tempati kalo nggak salah sih) akhir-akhir ini nggak jalan. Oh iya, gw ceritain dulu siapa ya narasumbernya, jadi narasumber kita itu, jujur gue lupa namanya, tapi pokoknya kit wawancara di warung, dan narasumbernya merupakan korporasi dari pemilik warung itu. Ada ibunya dengan dua orang anaknya. Tapi kita lebih sering nanya-nanya ke anak-anaknya daripada ibunya. Wawancaranya seru pokoknya, walaupun semua pembicaraan pake Bahasa Sunda, tapi gue suka penerimaan orang –orang ini. Jadi gitu, kepemudaan di desa Sunten Jaya udah mulai redup, tapi kalo dulu pas zamanya tetehnya(oh iya dua anak ibunya perempuan jadi gue panggil teteh) jalan. Mereka sering buat event lomba voli, bareng-bareng bersihin jembatan dan satu yang kalo diadain bakalan rame, yaituuu, Dangdutan. Haha. Nha kenapa keadaan kepemudaan di Desa Sunten Jaya bisa mandeg seperti sekarang, menurut tetehnya, jumlah pemudanya memang sedikit, terus pemudanya juga kebanyakan habis kelihatan gede-gede gitu mereka udah langsung kerja, dan tidak sempat mikirin hal-hal kayak gitu. Kasihan ya mereka. Nha, tetehnya juga minta kalo ada acara kayak Sekolah Rakapare gitu, pemuda-pemuda disini diajak, biar setidaknya mereka juga bisa ngerti dikit-dikit lah, keadaan yang sebenernya sekarang terjadi pada keadaan lingkungan sekitar mereka. Setidaknya Sekolah Rakapare bisa menjadi titik awal keresahan mereka. Tapi kalo dari kita, ini kita sampein pas presentasi sih, atas saran dari kak mentor, kita bisa buat kayak pos ronda gitu, nanti harapanya ada transfer ilmu lah istilahnya dari para orang-orang yang sudah berpengalaman ke orang-orang yang seharusnya meneruskan perjuangan estafet memimpin desa Sunten Jaya. Mungkin dari obrolan yang di temani rokok dan kopi, nantinya bisa muncul kolaborasi pemikiran yang ciamik. Itu (sambil bergaya Mario Bros, Teguh maksudnya). Abis selesai wawancara, kemudian sesi presentasi dan Tanya jawab, pas presentasi keren-keren pisan deh, pas sesi Tanya jawab juga banyak yang nanya. Ah antusias banget temen-temen w (baca:gue).

Malemnya kita ada materi tentang sejarah pergerakan mahasiswa dan kesadaran entitas. Jadi kita disini belajar tentang sejarah pergerakan, jadi kenapa sih bisa muncul pergerakan, gimana sih time linenya sampai bisa muncul demo-demo gitu. Jadi disitu dijelasin semua. Materi ini yang jadi pembicara kak Syifa dari Komune Rakapare chapter Surabaya. Tapi karena mungkin kita yang dari kecil sudah dicokoli bahwa sejarah hanya tentang menghafal tempat, tanggal, dan nama tokoh, jadinya banyak anak-anak yang bosen gitu. Mungkin gue termasuk salah satunya, karena sempet beberapa kali terkantuk-kantuk gitu. Setelah pematerian dari Kak Syifa dicukupkan, munculah Kang Bhat, gue suka ketika dia bilang, kalo emang pengen tidur balik aja ke rumah, tidur, tapi kalo masih ma uterus tapi ngantuk, silahkan cuci muka atau jedotin kepala ke tembok deh (kalimat terakhir gue yang nambahin sendiri), disini Cuma buat orang-orang yang nggak main-main katanya. Nha abis itu beliau ngomongin tentang pergerakan mahasiswa tapi nggak tentang time line melulu. Ada refleksi-refleksi keren yang beliau berikan gitu. Kadang ada juga sejarah yang beliau luruskan, kayak ternyata bukan Soeharto doang kok yang “bermain” hingga kekuasaanya bisa langgeng selam 30 tahun itu, tapi ternyata ada Ali Moertopo yang bermain sebagai sutradara hingga semuanya bisa “dipegang”, satu elemen penting yang Ali Moertopo pegang adalah elemen mahasiswa sebenernya. Dan bisa jadi Soe hok Gie itu ada karena ada pihak-pihak yang memainkanya, bisa jadi lho ya. Bisa jadi juga penggulingan Soekarno itu juga emang ada yang merencanakan, bukan semata-mata kebetulan saja. Kemudian beliau juga menjelaskan bagaimana istilah mahasiswa itu muncul, apa sih yang dimaksud dengan pemuda itu sebenarnya, terus kenapa mahasiswa sekarang seperti menjadi satu elemen yang “mungkin” terlepas dengan masyarakat. Mahasiswa itu sebenernya bisa berasal dari kata “Mahasiwa” gue nggak tau artinya apaan sebenernya, wkwk. Gue Cuma paham sedikit kenapa rakyat itu mengelu-elukan mahasiswa, itu karena mahasiswa demo yang menyebabkan kalo nggak Soekarno ya Soeharto jatuh. Yah, mungkin gue harus belajar banyak tentang sejarah deh kayaknya. Terus yang paling gue inget itu tentang pemuda, kata Kang Bhat yang mengutip pernyataan Soekarno bahwa pemuda itu tidak terletak pada umur dan fisik, tapi terletak pada jiwa, karena pada awal sebelum dibentuknya Boedi Oetomo kita mengenal Jong-jong itu kan, itu Jong-jong itu yang ikut sebenernya orang-orangnya udah tua banget, maka dari itulah Soekarno bilang kayak yang gue tulis diatas. Terus yang namanya pergerakan itu adalah sesuatu yang bergerak, kalo tidak bergerak, cuma, jangan deh ngaku-ngaku pergerakan, apalagi ngaku-ngaku aktivis wkwk.

Nha abis itu kita nonton film “Salam dari Anak-anak Tergenang”. Pokoknya lo kudu nonton deh ini film. Abis nonton ini film gue akhirnya menyadari bahwa ternyata keadaan kita tidak sedang baik-baik saja men. Jadi ini film menceritakan tentang penggusuran rumah warga untuk pembangunan proyek waduk Jatigede kalo nggak salah, (iya nggak sih?). Jadi sudut pandang yang diambil adalah dari seorang anak kecil bernama Nayla, kalo nggak Zakiyah namanya, tapi gue lebih keingetnya Nayla sih, dari dua itu pokoknya. Jadi disitu Nayla (pake Nayla aja ya) cerita kalo dia punya kampung yang sangat indah, sawahnya hijau luas, sungainya masih bersih, jadi mereka bisa main-main di sungai, pokoknya alam masih hijau lah dan dia sangat mencintai kampungnya. Tapi terus dia denger kampungnya bakalan digusur buat pembangunan Waduk Jatigede, dan tentu saja Nayla juga tidak sepakat kalo dibuat Waduk ditempatnya. Nayla nggak mau kehilangan kampung halaman, dia masih pengen lihat sungai yang bersih, sawah-sawah hijau, masih ingin bermain dengan teman-temanya yang lain. ini film keren pisan buat kita-kita yang terkadang sudah menutup pintu kepedulian di hati kita, tonton deh ya, tapi nggak tau ada link downloadnya apa nggak sih hehe. Abis selesai nonton, kita ada diskusi sama sutradara dan beberapa kru-nya, disana banyak pertanyaan-pertanyaan muncul dan gue jadi tahu itu awalnya ternyata tugas kuliah, dan mereka buat sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang yang sudah sering ada, yaitu dari sudut pandang anak-anak. Perbincangan hangat dari mereka, oh iya gue masih inget pesen Sutradaranya, pokoknya take dulu lah, ambil gambarnya dulu, masalah kepake atau nggak urusan belakang. Yah, male mini keren menurut gue. Ikutan deh Sekolah Rakapare 5.

Sudah, malam dingin, bersama-sama kawan aku berjalan. Pulang. Tidur.

(Bersambung)

Sebenernya gue nggak ada niatan nulis male mini. Tapi karena ada sesuatu yang menurutku agak buat geli sih, jadi gue sempetin untuk meluangkan waktu menmbuat suatu prasasti di catatan gue. Jadi gini sob, mala mini adalah hari Kamis, 4 Februari 2015. Gue abis selesai nonton pementasan Teater Suluh. Inti ceritanya adalah mengkritik keadaan mahasiswa sekarang yang pragmatis, yang benar-benar sedang bertransformasi menjadi sapi kalau kata Tarjo, yang selalu taat pada tuanya. Mahasiswa yang sudah sangat jarang sekali mau turun aksi atau bahkan peduli saja terhadap keadaan sekitar pun tidak. Kampus hari ini sudah seperti pabrik buruh saja, yang setiap tahunya hanya meluluskan para tenaga kerja-tenaga kerja yang bekerja untuk kelestarian kapitalisme jahat (menurut gue ada kok kapitalis baik).

Gue sebenernya dating terlambat sekitar setengah jam, dan pembukaan dari pentas ini adalah semacam stand up comedy gitu, tapi maaf aja sih, nggak terlalu lucu menurutku. Tapi gue menghargai lah dia berani maju dan tampil didepan. Tapi aku nagkep kok apa yang disampaikan, yaitu tentang kondisi mahasiswa sekarang (lagi) yang sudah sangat pragmatis dalam menjalani kuliahnya. Mahasiswa yang seperti tertindas oleh system tapi tidak pernah mau melawan. Mahasiswa yang sudah mati kemahasiswaanya lah kalo gue nyebutnya. Nha abis itu dia ngoceh selesai, barulah pentas teater suluh ini. Sempet ketemu Retas, ketua BEM KMFT yang hits abis itu wkwk.

Nha abis pentas teaternya selesai, ada beberapa orang yang komentar gitu tentang teaternya, agak lama gitu nggak ada yang ngacung, tapi akhirnya ada orang yang berani ngacung dan apresiasi lah sama pentasnya, orang ini juga bakalan bantu kalau umpamanya teater ini bakalan di gelar didaerah atau tempat kerjanya. Terus ada orang dari Bengkel Teater, pada tau nggak bengkel teater? Kalo nggak tau coba search google deh, setauku ini kayak organisasi teater zaman dulu dengan Rendra sebagai salah satu inisiatornya. Jangan bilang nggak tau Rendra itu siapa. Gue jelasin singkat aja ya, Beliau adalah mahasiswa S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya yang ketika lulus nggak ngambil ijazah, tapi beberapa tahun setelah itu dia dapet gelar doctor honoris causa dari almamaternya. Udah cukup menjelaskan belum apa yang dia lakukan abis dia lulus. Beliau komentar tentang keindahan dari pentas teater yang masih kurang. Tapi beliau juga ngomong bakalan ngajak workshop bareng jika actor-aktor Teater Suluh ini mau. Beliau juga ngomong sih kalo secara ide, pementasan kali ini hebat, tapi ya itu tadi, dalam berteater, keindahan itu penting. beliau sebenernya ngomong panjaaaang banget, tapi intinya menurutku itu sih. Abis pementasan benar-benar selesai dan para penonton sudah mulai meninggalkan panggung, aku ketemu sama Fakhrul sama Aji juga. Mereka temen-temen gue dari Sekolah Rakapare 4, yang kita rencananya mau inisiasi Rakapare Jogja. Abis gue ketemu ama dua orang tadi, kita langsung nemuin Mas Eko buat nanya-nanya tentang isu-isu apa yang ada di Jogja, sebenernya masih ada satu lagi sih selain, Aji, Fakrul sama gue, Sista namanya, cewek, tapi dia udah balik duluan. Selesai ngobrol sama Mas Eko, kita bertiga ditambah temenya Fakhrul yang rencananya mau ikut Sekolah Rakapare 5 ikut ngumpul juga. Kita bicarain langkah kita kedepan mau gimana lalala lah. Banyak deh pokoknya. Mulai dari petain isu yang ada di jogja, bicarain komune rakaparenya sendiri, bicarain Kang Bath kenapa bisa bikin Komune Rakapare, bicarain bakal ketemuan sama Mas Eko buat brainstroming masalah kultur konflik masyarakat yang ada di Jogja, jadi nanti ketika penelitian kita setidaknya tahu tahulah apa-apa yang harus disiapkan, terus bakalan nyari sapi dan alien lain buat diajak kerjasama, setelah kita dapetin data primer dan sekunder, udah itu sih yang menurut gue penting. Tapi mungkin kalo ada yang kelewat bakalan gue tambahin deh.

Nha abis itu semua gue buka WA kan, nha gue buka grup angkatan SMA. FYI aja, dari lulusan SMA tahun angkatan gue ada delapan orang yang kuliah di UGM. Dua orang pindah di tahun kedua, dan dari kedelapan anak itu, ada satu yang masuk ketika tahun kedua. Jadi ketika ditahun ketiga(sekarang) ada enam anak yang masih berstatus mahasiswa UGM. Komposisinya ada dua cowok dan empat cewek. Nha, masalahnya adalah, ada anak nanyain gini, Ada anak cowok UGM yang masih di jogja nggak? Bales cepet. (dia chatnya make Bahasa Jawa sama Bahasa Inggris dicampur, jadi gue terjemahin ke Bahasa Indonesia aja ya biar spesies dari Sabang sampe Merauke paham). Gue tidak pernah menganggap itu adalah perilaku yang salah sih, tapi menurutku itu nggak normal aja. Pertama, pertanyaan yang seharusnya dijawab adalah, kenapa nggak lo tanyain aja langsung ke orangnya yang Cuma dua orang itu, dia masih di Jogja nggak? Kalo gitu kan beres sudah, nggak perlu ganggu anak-anak yang ada di grup itu. Kedua ini, Apakah lo bener-bener nggak inget sama temen-temen lo kuliahnya pada dimana? Apa lo bener-bener nggak tahu? Gue maafin deh kalo emang lo nggak tahu temen-temen lo pada kuliah dimana, otomatis kalo pertanyaan ini nggak bisa jawab alias nggak tahu, otomatis pertanyaan pertama jelas nggak perlu dijawab. Tapi kalo bisa dijawab, artinya lo tau siapa aja temen lo yang kuliah di UGM tapi lo masih aja nanya ke grup, berarti fiks, menurut gue lo adalah Homo sapiens yang tidak normal. Yah, seakan-akan gitu semuanya bisa terpenuhi dengan adanya teknologi, teknologi memang mempermudah tapi tidak selalu memberikan yang kita minta. Oh, atau mungkin lo pengen ngramein grup diskusi WA? Halooo, kita hidup di dunia nyata men, bukan didunia maya. Dunia nyata lah yang seharusnya kita ramaikan, bukan maya. Ah, please lah guys, sadar sedikit, menjadilah manusia yang setidaknya normal dikit lah. lo temen gue, dan gue pengen peduli sama lo. Siapapun lo, yuk sadar, marilah kita gunakan social media atau tools aja lah, yang kita punya dengan cara yang wajar dan normal. Dalam hal ini, menjadi manusia tidak normal adalah freak menurut gue, bisa jadi tidak oleh orang lain. tapi lo boleh aja tidak normal dalam hal lain, missal nih ya, ketika temen lo dihajar gara-gara ngasih tau dosen bahwa temen lo yang nonjokin nyontek pas ujian dan temen yang lain diemin aja proses penonjokan ini, lo bisa melakukan sesuatu yang tidak normal mungkin dengan menonjok tem en lo yang nonjokin temen lo tadi. Ayolah, kita sudah diajari untuk menempatkan(melakukan) sesuatu pada tempatnya (sesuai dengan keadaan), mari temen-temen, jangan jadi tidak normal hanya gara-gara Smartphone. Ponsel cerdas yang kadang malah membodohi kita.

Terakhir, kalo ada temen dari temen-temen yang kasusnya hampir mirip-mirip kayak gitu, missal di grup nanyain hal-hal nggak penting, misalnya kalo ke malioboro naik transjogja darimana ya? Padahal itu anak udah dua tahun di jogja, atau mungkin Rumah Sakit Sardjito sebelah mana ya? Yang dia adalah mahasiswa jogja yang udah kuliah setahun lebih, udah mendingan diemin aja deh, biar dia ngerti kalo apa yang dilakukan itu tidak dibenarkan.